ISGF-Penelitian terbaru mengungkap bahwa integrasi teknologi di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) masih menghadapi berbagai tantangan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Temuan ini berasal dari studi tinjauan sistematis (Systematic Literature Review/SLR) yang dilakukan oleh tim peneliti lintas negara: Kaspul Anwar dari Indonesia, bersama Juraidah Musa dan Sallimah Salleh dari Universiti Brunei Darussalam.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Technology, Pedagogy and Education ini menganalisis 14 artikel ilmiah dari jurnal bereputasi internasional yang terbit antara tahun 2017 hingga 2022. Fokus utama penelitian ini adalah memahami bagaimana calon guru di berbagai negara mengintegrasikan teknologi dalam praktik mengajar, serta teori atau model apa saja yang digunakan dalam proses tersebut.
Menariknya, hasil tinjauan menunjukkan bahwa mayoritas penelitian tentang integrasi teknologi oleh guru prajabatan berasal dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Hanya satu studi yang dilakukan di Indonesia. “Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan geografis dalam kontribusi riset, yang berdampak pada minimnya pemahaman berbasis bukti dari konteks negara-negara berkembang,” tulis para peneliti dalam laporannya.
Dalam hal pendekatan teoritis, lebih dari 40% studi yang dianalisis menggunakan kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), yaitu pendekatan yang menilai keterkaitan antara pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten dalam proses mengajar. Namun, pemanfaatan kerangka ini masih belum umum di Indonesia. Selain TPACK, sejumlah model lain juga digunakan dalam studi-studi tersebut, seperti model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition) dan teori kognitif sosial Bandura.
Di samping itu, temuan lain juga mengindikasikan bahwa calon guru di berbagai negara masih belum memiliki keterampilan digital yang memadai. Kurangnya pelatihan praktis, keterbatasan infrastruktur, serta minimnya pendampingan selama praktik lapangan menjadi kendala utama. “Program pendidikan guru harus menyediakan pengalaman langsung dalam penggunaan teknologi, bukan hanya penyampaian teori,” ujar Kaspul Anwar, salah satu penulis utama.
Merespons tantangan tersebut, penelitian ini merekomendasikan agar lembaga pendidikan guru, khususnya fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, merancang ulang mata kuliah metodologi pengajaran agar lebih aplikatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan. Salah satu usulan penting adalah memasukkan kursus teknologi tingkat lanjut dan praktik integrasi teknologi dalam pembelajaran microteaching. “Tanpa reformasi kurikulum yang konkret, calon guru akan terus tertinggal dalam menghadapi era digital di ruang kelas,” tambah Juraidah Musa. Akhirnya, studi ini juga menekankan pentingnya kolaborasi riset lintas negara serta penerjemahan hasil riset internasional ke dalam bahasa lokal agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh guru, dosen, dan pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia. Apalagi, sebagian besar artikel ilmiah seperti ini ditulis dalam bahasa Inggris dan tidak mudah diakses secara terbuka. (***)
Selengkapnya dapat dibaca dibaca di: Anwar, K., Musa, J. & Salleh, S.M. From learning to practice: The role of preparation, acceptance, skills, and innovativeness in affecting preservice teacher technology integration. Educ Inf Technol (2024). https://doi.org/10.1007/s10639-024-13181-1
